Pengalaman ditunjuk sebagai boru parlopes.

Tanggal 19 September 2015 yang lalu, keluarga mertua saya mengadakan acara pernikahan bagi putri dari bapa tua kami, yaitu abang kandung dari bapa mertua saya. Bapa dan Ibu mertua saya ditunjuk untuk mewakili sebagai orang tua dari pihak perempuan, karena bapa dan mama tua kami sudah terlebih dahulu dipanggil Tuhan Debata. Saya sendiri sebagai menantu dipilih sebagai boru parlopes. Sebenarnya ada dua orang yang memenuhi syarat untuk menjadi boru parlopes selain saya, namun karena berhalangan, maka saya yang ditunjuk oleh pihak keluarga perempuan. Kedua orang tersebut adalah suami dari kakak kandung calon mempelai wanita, dan suami dari kakak kandung istri saya. Maka dapat disimpulkan bahwa boru parlopes itu adalah boru atau suami dari putri pihak keluarga yang mengadakan acara. Tugas dari boru parlopes sendiri adalah :

  • Mengecheck dan memastikan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk keperluan pesta unjuk. (termasuk ampang tempat manjalo tumpak, karung tempat beras dan tempat ulos, kantong plastik untuk jambar, demban/daun sirih  untuk pinggan panungkunan, dll).
  • Mengkoordinir sesama boru (angka parhobas) sesuai dengan pembagian tugas masing-masing. Ada yang bertugas sijalo dengke dan sekaligus silehon ulak ni dengke, sijalo boras (yg memasukkan ke karung) dan sekaligus silehon ulak ni tandok, yang menghantarkan para Hulahula dan Tulang ke tempat yang telah disediakan.
  • Siap dan Stand by diperintah Raja Parhata (duduk disamping protokol dan sudah menggunakan sarung di pinggang). Tugasnya diantaranya menghantarkan microphone dan daftar Hulahula dan Tulang ke pihak Hulahula ni paranak dan menghantarkan pinggan panungkunan.

(sumber : http://sitorusdori.wordpress.com)

Pengalaman sebagai boru parlopes menjadi pengalaman sangat berharga buat saya yang sudah lahir di kota Bogor, karena selama ini saya tidak terlalu memperhatikan tugas para parlopes ketika menghadiri acara-acara pernikahan adat batak, bahkan ketika saya menikah bulan Februari yang lalu di tahun yang sama. Secara tidak langsung saya dituntut untuk memperhatikan apa yang dikatakan oleh Raja Parhata. Selain itu, saya pun baru mengetahui bahwa posisi duduk para tamu pun ternyata memiliki fungsi tersendiri terutama ketika nantinya acara adat dijalankan. Hal-hal seperti ini saya rasa sangat penting untuk kita yang memang ingin melanjutkan tradisi batak. Bukan berarti mendahulukan adat daripada Tuhan. Adat hanyalah simbol dengan atribut dan peraturan-peraturan yang melekat di dalamnya yang menandakan identitas kita. Seperti halnya kewarganegaraan, ada simbol dan atribut serta peraturan yang harus kita patuhi yang menandakan kita adalah orang Indonesia, namun tidak merubah apa yang kita yakini masing-masing.

Selamat untuk Libert Harianja dan Petra Sherly boru Simanjuntak. Semoga menjadi keluarga yang selalu bahagia, selalu diberkati Tuhan Yesus dan lekas diberi keturunan. Amin.

Advertisements
Tagged , ,

lukisan rahasia hati

sulit untuk mengungkapkan perasaan, apakah lukisan dari tingkat kematangan (kedewasaan) seseorang? entahlah, yang pasti tidak semua orang memiliki kekuatan itu.

rasa sayang yang tidak bisa diungkapkan secara langsung dan terkesan lama akan menghasilkan mosaik dan kejenuhan. bukan bermaksud membandingkan hamba yang kecil dengan Tuhan yang besar, bahkan doa permohonan yang kerap tidak mendapat jawaban dari Sang Khalik akan melunturkan iman seseorang, apa jadinya bila hal itu terjadi hanya di antara dua mahluk sosial?

selama tidak diungkapkan hanya akan menjadi lukisan rahasia hati yang tidak bisa diukur tingkat keindahannya, karena hanya dapat dilihat oleh pribadi yang pemalu.

bervin_

Tagged , , ,